SIEMBA — Preservasi & Publikasi Seni Budaya Bantengan Desa Tumpang Malang
SIEMBA Logo
SIEMBA Desa Tumpang • Kab. Malang
Pengumuman

Kepala Desa Tumpang Widiarto Dorong Organisasi Masyarakat Lebih Solid dan Profesional

Oleh Widiarto, S.E. (Kepala Desa Tumpang)
26 July 2026
Dilihat 383 kali
Kepala Desa Tumpang Widiarto Dorong Organisasi Masyarakat Lebih Solid dan Profesional

Malang, 17 Agustus 2026 — Membangun desa yang berdaya tidak cukup hanya dengan mengandalkan potensi sumber daya alam dan kekayaan budaya. Dibutuhkan organisasi masyarakat yang solid, kepemimpinan yang kuat, serta kemampuan mengelola potensi desa secara bersama-sama.

Pesan tersebut disampaikan Widiarto, S.E., Kepala Desa Tumpang, dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi yang menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Widya Gama Malang (UWG) Tahun 2026, pada 17 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Widiarto hadir tidak hanya sebagai Kepala Desa, tetapi juga sebagai pemateri yang berbagi pengalaman dan perspektif mengenai pentingnya manajemen organisasi dalam membangun kemandirian masyarakat.

Organisasi Kuat, Desa Semakin Berdaya

Widiarto menekankan bahwa berbagai program pembangunan desa akan berjalan lebih optimal apabila didukung organisasi masyarakat yang mampu bekerja secara terstruktur dan memiliki tujuan bersama.

Menurutnya, masyarakat Desa Tumpang memiliki potensi besar, terutama dalam bidang seni dan budaya. Namun, potensi tersebut perlu dikelola secara serius agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Potensi desa itu besar, tetapi kalau tidak dikelola dengan organisasi yang baik, potensinya tidak akan berkembang secara maksimal. Karena itu, kita harus membangun organisasi yang solid, transparan, dan mampu bekerja bersama,” ujar Widiarto.

Dalam pelatihan, peserta diajak memahami pentingnya pembagian tugas dan tanggung jawab, koordinasi antaranggota, kepemimpinan, penyusunan program kerja, serta komunikasi dalam organisasi.

Widiarto juga mendorong agar setiap organisasi dan komunitas di desa memiliki arah yang jelas sehingga kegiatan yang dilakukan tidak bersifat insidental, tetapi dapat dirancang sebagai program yang berkelanjutan.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Sebagai Kepala Desa, Widiarto melihat bahwa pengembangan potensi budaya Desa Tumpang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Pemerintah desa tidak dapat bekerja sendiri. Komunitas seni, tokoh masyarakat, generasi muda, perguruan tinggi, dan berbagai mitra lainnya perlu membangun kolaborasi yang saling menguatkan.

Hal tersebut menjadi semakin penting dalam pengembangan Kesenian Bantengan dan berbagai potensi budaya lainnya yang dimiliki Desa Tumpang.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi menjadi pelaku utama. Pemerintah desa memberikan dukungan, masyarakat menggerakkan, dan perguruan tinggi mendampingi. Kalau ini bisa berjalan bersama, hasilnya akan jauh lebih besar,” jelasnya.

Menurut Widiarto, kolaborasi tersebut juga dapat membuka peluang baru bagi masyarakat. Kesenian dan budaya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan pelestarian tradisi, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan daya tarik desa.

Generasi Muda Harus Dilibatkan

Salah satu perhatian penting dalam pengembangan organisasi masyarakat adalah keterlibatan generasi muda.

Widiarto menilai generasi muda memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan berbagai potensi budaya Desa Tumpang. Mereka tidak hanya perlu dikenalkan dengan kesenian tradisional, tetapi juga diberi ruang untuk berkreasi dan mengembangkan budaya melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pemanfaatan teknologi digital, media sosial, dan kreativitas generasi muda dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Karena itu, organisasi budaya di tingkat desa perlu mulai membangun regenerasi sehingga keberadaan komunitas seni tidak bergantung pada figur atau pengurus tertentu.

Dari Organisasi Menuju Kemandirian Desa

Pelatihan manajemen organisasi yang disampaikan Widiarto menjadi bagian penting dari rangkaian Program Pemberdayaan Desa Binaan UWG di Desa Tumpang.

Program tersebut tidak hanya diarahkan pada penguatan sarana kesenian, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu mengelola berbagai potensi desa secara lebih profesional.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan dengan pelaksanaan Program Pemajuan Kebudayaan Desa (Desa Budaya) yang telah memasuki tahun ketiga di Desa Tumpang.

Melalui sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, komunitas seni, generasi muda, dan UWG, diharapkan terbentuk ekosistem yang mampu menjaga keberlanjutan budaya sekaligus menciptakan manfaat sosial dan ekonomi.

Bagi Widiarto, keberhasilan pembangunan desa pada akhirnya bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa jauh masyarakat mampu bergerak dan mengelola potensinya secara mandiri.

“Kita ingin Desa Tumpang bukan hanya memiliki budaya yang kuat, tetapi juga masyarakat yang kuat. Organisasinya kuat, generasinya siap, dan potensi desanya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, UWG dan Pemerintah Desa Tumpang menegaskan komitmen untuk terus membangun kapasitas masyarakat dari dalam. Karena desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki banyak potensi, tetapi desa yang memiliki masyarakat yang mampu mengorganisasi, mengelola, dan mengembangkan potensinya sendiri.