SIEMBA — Preservasi & Publikasi Seni Budaya Bantengan Desa Tumpang Malang
SIEMBA Logo
SIEMBA Desa Tumpang • Kab. Malang
Edukasi & Budaya

UWG Bekali Masyarakat Desa Tumpang dengan Literasi Keuangan, Dorong Organisasi Budaya Lebih Transparan dan Mandiri

Oleh Prof. Dr. Ana Sopanah
18 June 2026
Dilihat 419 kali
UWG Bekali Masyarakat Desa Tumpang dengan Literasi Keuangan, Dorong Organisasi Budaya Lebih Transparan dan Mandiri

Malang, 18 Agustus 2026 — Potensi budaya yang besar membutuhkan pengelolaan yang kuat. Tidak hanya dari sisi seni dan organisasi, tetapi juga dari sisi keuangan. Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, kegiatan masyarakat dan organisasi budaya akan sulit berkembang secara berkelanjutan.

Kesadaran tersebut menjadi perhatian dalam Program Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Widya Gama Malang (UWG) Tahun 2026 melalui kegiatan Pelatihan Keuangan yang dilaksanakan di Desa Tumpang, Kabupaten Malang, pada 18 Agustus 2026.

Pelatihan menghadirkan Prof. Dr. Ana Sopanah, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., selaku narasumber sekaligus Ketua Tim Hibah Pemberdayaan Desa Binaan UWG.

Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dan pengelola organisasi dalam memahami, mencatat, mengelola, dan mempertanggungjawabkan keuangan secara lebih tertib dan transparan.

Bukan Sekadar Bisa Mencatat Uang

Dalam pemaparannya, Prof. Ana menegaskan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar persoalan mencatat uang masuk dan uang keluar.

Lebih dari itu, pencatatan keuangan merupakan bagian penting dari tata kelola organisasi. Dengan administrasi keuangan yang baik, organisasi dapat mengetahui kondisi keuangannya, menyusun perencanaan kegiatan, menentukan prioritas penggunaan dana, serta mempertanggungjawabkan setiap sumber dan penggunaan dana.

“Keuangan yang tertib akan membuat organisasi lebih dipercaya. Ketika setiap pemasukan dan pengeluaran tercatat dengan baik, masyarakat dapat melihat bahwa organisasi dikelola secara transparan dan bertanggung jawab,” ujar Prof. Ana.

Peserta diberikan pemahaman mengenai prinsip dasar pengelolaan keuangan, pencatatan transaksi, penyusunan laporan sederhana, pengelolaan pemasukan dan pengeluaran, hingga pentingnya menyimpan bukti transaksi.

Materi disampaikan dengan pendekatan praktis agar dapat langsung diterapkan dalam kegiatan organisasi dan komunitas masyarakat Desa Tumpang.

Budaya Butuh Tata Kelola yang Sehat

Menurut Prof. Ana, pengembangan kesenian tradisional seperti Bantengan membutuhkan ekosistem yang sehat. Kreativitas dan semangat berkesenian harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola organisasi dan keuangan.

Organisasi seni yang memiliki tata kelola keuangan yang baik akan lebih mudah menyusun program, mengelola bantuan, mengembangkan kegiatan, dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak.

Karena itu, penguatan kapasitas keuangan menjadi bagian integral dari Program Pemberdayaan Desa Binaan UWG.

“Kita ingin masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola programnya sendiri. Bantuan sarana penting, tetapi kemampuan mengelola dan mempertanggungjawabkan sumber daya jauh lebih penting untuk keberlanjutan,” jelasnya.

Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena Desa Tumpang memiliki berbagai potensi budaya yang dapat dikembangkan tidak hanya untuk kegiatan pelestarian, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi kreatif masyarakat.

Transparansi Membangun Kepercayaan

Dalam pelatihan, peserta juga diajak memahami bahwa transparansi keuangan merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun kepercayaan antaranggota organisasi.

Keterbukaan dalam pengelolaan dana dapat meminimalkan kesalahpahaman, memperkuat rasa memiliki, dan mendorong anggota untuk lebih aktif berpartisipasi dalam organisasi.

Bagi organisasi masyarakat dan komunitas seni, hal tersebut menjadi semakin penting karena sumber pendanaan dapat berasal dari berbagai pihak, baik dari pemerintah desa, kegiatan masyarakat, dukungan perguruan tinggi, maupun sumber lainnya yang sah.

Dengan pencatatan dan pelaporan yang tertib, setiap sumber dana dapat dikelola secara bertanggung jawab sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Dari Literasi Keuangan Menuju Kemandirian

Pelatihan keuangan ini menjadi bagian dari pendekatan komprehensif UWG dalam mendampingi masyarakat Desa Tumpang.

Program Pemberdayaan Desa Binaan tidak hanya memberikan dukungan berupa hibah seperangkat gamelan, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui manajemen organisasi, pengelolaan keuangan, digitalisasi, serta pengembangan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya.

Prof. Ana menjelaskan bahwa seluruh komponen tersebut saling berkaitan. Organisasi yang baik membutuhkan tata kelola yang baik. Tata kelola yang baik membutuhkan pengelolaan keuangan yang sehat. Sementara potensi budaya yang kuat membutuhkan organisasi yang mampu mengelolanya secara berkelanjutan.

“Kita tidak ingin program berhenti ketika pendampingan selesai. Harapannya, masyarakat Desa Tumpang memiliki kemampuan dan sistem yang memungkinkan mereka melanjutkan serta mengembangkan program secara mandiri,” ungkap Prof. Ana.

Menjadikan Budaya sebagai Kekuatan Desa

Desa Tumpang saat ini memasuki tahun ketiga dalam pelaksanaan Program Pemajuan Kebudayaan Desa (Desa Budaya). Momentum tersebut menjadi peluang untuk semakin memperkuat berbagai potensi budaya yang telah tumbuh di tengah masyarakat.

Melalui kolaborasi UWG dan Pemerintah Desa Tumpang, pengembangan budaya diarahkan agar memiliki fondasi yang lebih kuat—mulai dari sumber daya manusia, organisasi, sarana kesenian, hingga tata kelola keuangan.

Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada menjaga tradisi, tetapi dapat berkembang menjadi kekuatan sosial, pendidikan, kreativitas, dan ekonomi masyarakat.

Program ini sekaligus menegaskan komitmen UWG bahwa pemberdayaan masyarakat harus meninggalkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas, bukan sekadar bantuan.

Sebab, desa yang mandiri bukan desa yang tidak membutuhkan bantuan, melainkan desa yang semakin mampu mengelola setiap sumber daya yang dimilikinya secara cerdas, transparan, dan berkelanjutan.