SIEMBA — Preservasi & Publikasi Seni Budaya Bantengan Desa Tumpang Malang
SIEMBA Logo
SIEMBA Desa Tumpang • Kab. Malang
Pengumuman

UWG Dorong Desa Budaya Tumpang Naik Kelas Lewat Digitalisasi, Dr. Istiadi Kenalkan SI-EMBA untuk Perkuat Bantengan

Oleh Dr. Istiadi, S.T., M.T.
18 August 2026
Dilihat 643 kali
UWG Dorong Desa Budaya Tumpang Naik Kelas Lewat Digitalisasi, Dr. Istiadi Kenalkan SI-EMBA untuk Perkuat Bantengan

Malang, 18 Agustus 2026 — Pelestarian budaya di era digital tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi agar tetap dipentaskan. Budaya juga perlu didokumentasikan, dikelola, dipromosikan, dan diperkenalkan melalui teknologi agar mampu menjangkau generasi baru dan masyarakat yang lebih luas.

Semangat tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan Digitalisasi Desa Budaya yang dilaksanakan Universitas Widya Gama Malang (UWG) di Desa Tumpang, Kabupaten Malang, pada 18 Agustus 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah–Desa Binaan Tahun 2026, dengan menghadirkan Dr. Istiadi, S.T., M.T., sebagai narasumber sekaligus anggota Tim Hibah Pemberdayaan Desa Binaan UWG.

Pelatihan diarahkan untuk membekali masyarakat dan pengelola komunitas budaya dengan pemahaman serta keterampilan dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai instrumen pelestarian budaya, penguatan organisasi, promosi, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Jangan Biarkan Budaya Hanya Tersimpan di Galeri Ponsel

Dalam pelatihan, Dr. Istiadi mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap dokumentasi budaya.

Selama ini, foto dan video kegiatan seni sering kali hanya tersimpan di telepon genggam milik individu. Ketika perangkat rusak, berganti, atau data terhapus, dokumentasi tersebut berisiko ikut hilang.

Padahal, setiap pertunjukan, aktivitas komunitas, tokoh seni, dan tradisi yang dilakukan masyarakat merupakan bagian dari jejak pengetahuan budaya yang penting untuk diwariskan.

“Dokumentasi budaya jangan berhenti menjadi foto atau video yang tersimpan di handphone. Dokumentasi harus dikelola menjadi arsip dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat dan generasi berikutnya,” ujar Dr. Istiadi.

Karena itu, masyarakat diperkenalkan pada pola dokumentasi yang lebih terstruktur, mulai dari perencanaan kegiatan, pengambilan foto dan video, pengumpulan informasi, hingga penyimpanan dan publikasi melalui kanal digital.

SI-EMBA, Etalase Digital Seni Bantengan

Salah satu materi utama yang diperkenalkan dalam pelatihan adalah pemanfaatan SI-EMBA, platform digital Seni Bantengan yang dikembangkan dalam Program Desa Binaan UWG.

SI-EMBA dirancang sebagai etalase digital Desa Budaya Tumpang, yang mengintegrasikan informasi mengenai seni Bantengan, komunitas, kegiatan budaya, dokumentasi, potensi ekonomi kreatif, serta berbagai informasi pendukung lainnya.

Melalui platform tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi objek dokumentasi, tetapi juga menjadi pengelola dan pemilik pengetahuan budaya yang mereka miliki.

Profil kelompok seni, agenda kegiatan, dokumentasi pertunjukan, sejarah kesenian, pelaku budaya, hingga potensi ekonomi masyarakat dapat dihimpun dan disajikan dalam ruang digital yang lebih terorganisasi.

Menurut Dr. Istiadi, keberadaan SI-EMBA diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun sistem informasi budaya yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.

“Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk memperkuat budaya yang sudah mereka miliki,” jelasnya.

Digitalisasi untuk Promosi dan Ekonomi Kreatif

Pelatihan juga menyoroti bagaimana teknologi digital dapat digunakan untuk memperluas jangkauan promosi seni Bantengan dan potensi ekonomi kreatif Desa Tumpang.

Media sosial dan platform digital dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan pertunjukan, komunitas, produk UMKM, merchandise, hingga potensi wisata berbasis budaya.

Dengan strategi tersebut, budaya lokal memiliki peluang untuk dikenal oleh masyarakat di luar Desa Tumpang, bahkan menjangkau publik yang lebih luas.

Digitalisasi dengan demikian tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi, tetapi juga sebagai jembatan antara budaya lokal dengan pasar, jejaring, dan peluang kolaborasi.

Generasi Muda sebagai Penggerak Digital

Aspek lain yang mendapat perhatian dalam pelatihan adalah keterlibatan generasi muda.

Menurut Dr. Istiadi, generasi muda memiliki posisi strategis karena mereka merupakan kelompok yang paling dekat dengan teknologi digital.

Keterlibatan mereka dalam dokumentasi, pengelolaan media sosial, pembuatan konten, pengelolaan data, hingga pengembangan platform digital dapat menjadi bentuk regenerasi baru dalam pelestarian budaya.

Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi penonton kesenian tradisional, tetapi dapat mengambil peran sebagai dokumentator, kreator, promotor, sekaligus penggerak budaya di ruang digital.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Membuat Aplikasi

Dr. Istiadi menegaskan bahwa digitalisasi Desa Budaya Tumpang tidak dimaknai sekadar sebagai pembuatan aplikasi atau situs web.

Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun ekosistem digital budaya yang memungkinkan informasi dikumpulkan, dikelola, dipublikasikan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Karena itu, pelatihan menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat memiliki kemampuan dalam mengoperasikan dan mengembangkan sistem yang telah dibangun.

Hal tersebut sejalan dengan desain Program Pemberdayaan Desa Binaan UWG yang mengintegrasikan pelestarian budaya, penguatan organisasi, pengelolaan keuangan, digitalisasi, dan pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan pendekatan tersebut, teknologi ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat kapasitas masyarakat, bukan menggantikan peran masyarakat.

Dari Panggung Desa ke Ruang Digital

Desa Tumpang tengah memasuki tahun ketiga pelaksanaan Program Pemajuan Kebudayaan Desa (Desa Budaya). Momentum tersebut menjadi peluang untuk memperluas cara masyarakat merawat dan memperkenalkan kekayaan budaya yang dimiliki.

Kesenian Bantengan yang selama ini hidup melalui panggung-panggung pertunjukan kini memperoleh ruang baru di dunia digital.

Pertunjukan dapat direkam. Cerita dapat ditulis. Tokoh dapat didokumentasikan. Komunitas dapat diperkenalkan. Kegiatan dapat dipromosikan. Potensi ekonomi dapat ditampilkan.

Semua itu kemudian dapat dihimpun menjadi arsip dan etalase digital Desa Budaya Tumpang melalui SI-EMBA.

Melalui pendampingan UWG, masyarakat diharapkan semakin siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Sebab, digitalisasi bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi memastikan tradisi memiliki ruang untuk tetap hidup, dikenal, dan diwariskan.

Dan dari Desa Tumpang, suara Bantengan kini tidak hanya terdengar di panggung desa. Ia mulai menemukan ruang baru di dunia digital.